Bulan November mendatang bakal menjadi momen krusial yang menentukan arah masa depan pasar modal Indonesia. Penyedia indeks global terkemuka, MSCI, dijadwalkan akan merilis hasil peninjauan (review) yang sempat tertunda. Evaluasi ini sangat dinantikan mengingat MSCI sebelumnya memberikan peringatan keras: menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar terbelakang (frontier market) jika tidak ada kemajuan signifikan dalam transparansi dan tata kelola perdagangan.
Peringatan MSCI terkait isu transparansi dan dugaan transaksi terkoordinasi tersebut langsung memicu gelombang reformasi besar-besaran di tubuh Bursa Efek Indonesia (BEI). Di tengah bayang-bayang ketidakpastian jelang keputusan MSCI, angin segar berembus dari penyedia indeks global lainnya, FTSE Russell. Dalam evaluasi terbarunya, FTSE Russell memutuskan untuk mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok secondary emerging market dan membebaskannya dari daftar pantauan (watchlist).
Keputusan FTSE Jadi Indikator Positif Reformasi Pasar Modal
Kepala Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menegaskan bahwa langkah FTSE Russell menjadi bukti sahih bahwa pembenahan struktur dan regulasi pasar modal domestik sudah berada di jalur yang benar. Pemerintah dan regulator berharap evaluasi dari lembaga pemeringkat internasional lainnya juga didasarkan pada parameter yang objektif.
“Kami berharap pencapaian ini menjadi tolok ukur bagi penyedia indeks lain serta investor global dalam melihat komitmen berkelanjutan Indonesia untuk meningkatkan integritas dan keterjangkauan investasi (investability) di pasar modal kita,” ujar Hasan saat menghadiri gelaran Investor Daily Summit di Jakarta.
Kendati demikian, Hasan menekankan bahwa rangkaian reformasi yang tengah digencarkan OJK bersama otoritas bursa bukan semata-mata untuk merespons gertakan MSCI. Langkah pembenahan tersebut memang dirancang sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat daya tarik dan daya saing pasar modal nasional di mata pemodal internasional.
Intensifkan Komunikasi Komunikasi dengan Investor Global
Di forum yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Iding Pardi, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berinteraksi secara intensif dengan penyedia indeks global dan investor internasional. Langkah proaktif ini dilakukan untuk memastikan bahwa dampak positif dari transformasi pasar modal yang tengah berjalan dapat dipahami secara utuh oleh para pelaku pasar global.
“Keputusan akhir dari penyedia indeks global memang di luar kendali kami. Namun, yang bisa kami pastikan adalah proses transformasi di pasar modal Indonesia terus berjalan dan memberikan dampak nyata sesuai yang diharapkan,” tutur Iding.
Melihat Kesehatan Pasar Secara Komprehensif
Lebih lanjut, Iding mengimbau para investor dan pengamat agar tidak menilai tingkat kesehatan serta daya tahan pasar modal Indonesia hanya dari fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semata. Menurutnya, analisis yang komprehensif harus mencakup indikator-indikator fundamental lain yang tak kalah vital.
“Kinerja fundamental perusahaan tercatat (emiten), tingkat likuiditas perdagangan, efektivitas penghimpunan dana, hingga struktur kepemilikan saham merupakan indikator-indikator kunci yang wajib diperhitungkan secara menyeluruh,” jelasnya.
Pasar saham Indonesia sendiri sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) saat IHSG menyentuh level 9.135 pada Januari lalu, sebelum akhirnya mengalami koreksi tajam. Memasuki pertengahan tahun, kondisi pasar modal domestik mulai menunjukkan sinyal pemulihan secara bertahap dan konsisten.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post