PHNOM PENH — Kebutuhan energi Kamboja mengalami lonjakan signifikan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Nilai impor minyak dan gas bumi (migas) negara kerajaan di Asia Tenggara tersebut tercatat melonjak hingga hampir 54 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan resmi, impor bahan bakar solar mendominasi pengeluaran Kamboja dari Januari hingga September. Kamboja menghabiskan dana sebesar 1,47 miliar dolar AS untuk impor solar, atau naik 48 persen secara tahunan (year on year). Sementara itu, nilai impor bensin melonjak drastis hingga 76 persen menjadi 1,04 miliar dolar AS, dan pengeluaran untuk gas pembakaran meningkat 23 persen mencapai 314 juta dolar AS.
Pertumbuhan Ekonomi dan Konflik Global Jadi Pemicu
Peningkatan drastis volume dan nilai impor migas ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni geliat aktivitas ekonomi dalam negeri serta tekanan dinamika geopolitik global.
Kombinasi antara meningkatnya produksi di sektor industri, perluasan jaringan transportasi dan logistik, serta melesatnya permintaan pasokan listrik domestik menjadi pendorong utama di balik tingginya konsumsi energi di Kamboja.
Namun, di tengah momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang sedang menguat, Kamboja harus menghadapi tantangan berat berupa lonjakan harga bahan bakar global. Kenaikan harga pasar dunia ini tidak lepas dari dampak konflik yang masih terus berlanjut di wilayah Timur Tengah.
Harga Bensin Eceran Melonjak Tajam
Dampak gejolak harga minyak dunia langsung terasa pada level konsumen di Kamboja. Data terbaru dari Kementerian Perdagangan Kamboja menunjukkan adanya kenaikan harga eceran bahan bakar minyak (BBM) yang sangat signifikan di dalam negeri.
Harga bensin reguler tercatat menembus angka 5.150 riel atau setara 1,27 dolar AS per liter. Angka ini melonjak tajam hingga 33,7 persen jika dibandingkan dengan tingkat harga sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah terjadi.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada jenis bahan bakar solar. Harga solar eceran kini menyentuh 5.650 riel atau setara 1,39 dolar AS per liter, yang mencerminkan lonjakan mencapai 46,7 persen.
Kondisi ini menjadi beban berat bagi perekonomian Kamboja. Pasalnya, hingga saat ini Kamboja masih sepenuhnya bergantung pada pasokan impor untuk memenuhi seluruh kebutuhan minyak bumi dalam negeri, mengingat potensi dan cadangan migas lepas pantai yang dimiliki negara tersebut belum dimanfaatkan secara komersial.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post