MALANG TODAY – Gelombang protes penuntut reformasi sektor pendidikan kini meluas melintasi batas negara di Eropa. Terinspirasi dari aksi serupa di Prancis, ratusan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Liege, Belgia, turun ke jalan untuk menuntut perbaikan fasilitas sekolah dan penurunan biaya pendidikan yang dinilai mencekik. Aksi demonstrasi yang diwarnai ketegangan ini berujung pada penahanan ratusan remaja oleh kepolisian setempat.
Fasilitas Buruk dan Biaya Mahal Jadi Pemicu
Para pelajar di Belgia menyuarakan keresahan mendalam atas ketimpangan antara biaya sekolah yang tinggi dengan kualitas fasilitas yang mereka terima. Mereka mengeluhkan kondisi ruang kelas yang sempit dan sesak, keterbatasan jumlah tenaga pengajar, hingga buruknya sistem sanitasi di gedung-gedung sekolah.
Selain masalah fisik sekolah, para demonstran juga menyoroti sulitnya akses untuk mendapatkan materi pembelajaran yang memadai. Dalam aksi tersebut, para siswa membentangkan berbagai poster bernada protes keras, seperti “Situasi ini kacau, kami memperjuangkan hak!”, “Ini bukan tuntutan yang berlebihan!”, hingga sindiran tajam berbunyi “Kami ingin belajar, bukan pertarungan Hunger Games!”.
Ketegangan sempat meningkat di beberapa titik di Kota Liege. Berdasarkan rekaman video yang beredar luas di media sosial, tampak pecahan kaca berserakan dan kobaran api di jalanan yang dipadati oleh ratusan pengunjuk rasa yang didominasi remaja berusia 15 hingga 19 tahun. Pihak kepolisian setempat dilaporkan mengamankan sedikitnya 107 pendemo dalam aksi tersebut.
Efek Domino Pergerakan Pelajar Prancis
Solidaritas dan momentum menjadi pemantik utama meluasnya gerakan ini ke Belgia. Amelia Di Salve, seorang mahasiswi keguruan berusia 19 tahun, mengungkapkan bahwa gerakan mahasiswa di Belgia sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun ini. Namun, aksi tersebut kembali membara setelah mereka menyaksikan keberanian para pelajar di Prancis yang melakukan aksi mogok dan unjuk rasa besar-besaran.
“Saat kami melihat tidak ada perubahan tanpa adanya protes, kami memutuskan memulai aksi juga. Prancis memang sedikit mempengaruhi kami,” ujar Di Salve.
Senada dengan Di Salve, seorang pelajar asal Liege bernama Alfred menegaskan pentingnya solidaritas antar-pelajar dalam menghadapi krisis pendidikan ini. “Kami saling mendukung karena kami menghadapi masalah yang kurang lebih sama,” tuturnya.
Merespons situasi yang memanas, Wali Kota Liege, Willy Demeyer, mengimbau semua pihak untuk menahan diri. Ia berharap situasi kota dapat kembali kondusif dan mendorong dibukanya ruang dialog antara pemerintah dan perwakilan pelajar. Demeyer menegaskan bahwa dirinya sangat mendukung kaum muda untuk menyampaikan aspirasi mereka, asalkan dilakukan secara damai dan konstitusional.
Aksi turun ke jalan para pelajar di Liege ini merupakan kelanjutan dari keresahan sektor pendidikan di Belgia. Sebelumnya pada Juni lalu, para tenaga pengajar di Brussels juga menggelar demonstrasi menentang reformasi pendidikan, termasuk kebijakan kenaikan biaya kuliah yang signifikan bagi mahasiswa di komunitas penutur bahasa Prancis di Belgia, dari 835 euro (sekitar Rp 16,7 juta) melonjak menjadi 1.194 euro (sekitar Rp 23,9… juta).
Kondisi di Prancis Kian Mencekam
Sementara itu di Prancis, gerakan protes serupa telah lebih dulu memicu kelumpuhan di sejumlah kota besar. Para siswa melakukan aksi blokade sekolah, membakar tempat sampah, hingga terlibat bentrokan fisik dengan aparat kepolisian. Lebih dari 160 sekolah terpaksa ditutup total akibat aksi ini, dan polisi telah menahan sedikitnya 340 demonstran.
Eskalasi kekerasan dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Prancis. Di Marseille, ratusan pemuda mengepung mobil pemadam kebakaran yang hendak memadamkan api di SMA Saintexupery. Di Nantes, aksi vandalisme merusak pintu masuk sekolah menengah, disertai laporan kekerasan terhadap staf sekolah. Sementara di Strasbourg, otoritas setempat terpaksa menghentikan layanan trem guna membatasi ruang gerak para demonstran yang mulai membakar barikade di jalur transportasi publik.
Menanggapi situasi darurat ini, Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, langsung menggelar rapat kabinet terbatas. Ia menginstruksikan para menteri untuk membatalkan seluruh agenda perjalanan dinas luar kota guna fokus menangani dan meredam gejolak demonstrasi sektor pendidikan yang kian meluas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post