IHSG Rebound Saat Likuiditas Domestik Melimpah di Tengah Bayang-bayang Inflasi Global
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengawali perdagangan Jumat pagi di zona hijau. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini menguat 0,27 persen ke level 6.315, membalikkan posisi setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Pergerakan positif ini terjadi ketika para pelaku pasar berupaya menimbang melimpahnya likuiditas pasar domestik di tengah meningkatnya kembali kekhawatiran inflasi global serta ketidakpastian arah suku bunga acuan internasional.
Pada menit-menit awal perdagangan, IHSG bergerak dinamis pada rentang 6.311 hingga 6.323. Data transaksi mencatat sebanyak 1,01 miliar lembar saham telah berpindah tangan dengan total nilai transaksi mencapai Rp 212,44 miliar melalui 48.082 kali transaksi. Sebanyak 220 saham mencatatkan kenaikan harga, 151 saham melemah, dan 263 saham sisanya bergerak stagnan.
Likuiditas Domestik Tetap Solid dan Adaptif
Di balik tekanan eksternal seperti melambungnya harga minyak dunia, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS, serta tekanan pada nilai tukar rupiah, fondasi ekonomi domestik menunjukkan ketahanan yang kuat. Pasokan uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia tercatat tumbuh 8,2 persen secara tahunan (year-on-year) mencapai Rp 10.448,1 triliun pada Agustus 2026. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh ekspansi penyaluran kredit perbankan yang melaju pesat hingga 13,3 persen.
Pergeseran dana masyarakat ke tabungan rupiah dan peningkatan uang kuasi mengindikasikan bahwa para pelaku ekonomi kian adaptif dalam mengelola likuiditas jangka pendek, sembari memanfaatkan suku bunga simpanan yang kompetitif. Kombinasi antara pertumbuhan kredit yang solid dan likuiditas yang sehat ini menjadi katalis positif bagi sektor perbankan kelas atas serta saham-saham sektor konsumer.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah global berpotensi memberikan angin segar dan sentimen positif jangka pendek bagi emiten di sektor energi serta industri turunannya.
Bayang-bayang Kenaikan Suku Bunga The Fed
Meski kondisi dalam negeri kondusif, dinamika pasar global masih dipenuhi ketidakpastian. Pasar keuangan internasional kembali dibayangi kekhawatiran inflasi seiring memanasnya harga energi. Pada saat yang sama, penguatan aktivitas bisnis di Amerika Serikat yang mencatatkan laju tercepatnya sejak pertengahan 2021 justru mendorong tekanan harga ke level tertinggi sejak akhir 2022.
Kondisi ekonomi AS yang memanas meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan bank sentral AS, The Federal Reserve, untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang. Berdasarkan data probabilitas pasar, peluang kenaikan suku bunga tersebut kini melonjak tajam mendekati 69 persen, naik signifikan dibanding pekan sebelumnya yang berada di kisaran 55 persen.
Analis menilai pasar obligasi saat ini sedang menghadapi tekanan ganda yang bersumber dari tiga faktor utama sekaligus: lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik geopolitik, ekspansi belanja pemerintah yang terus berlangsung, serta pengetatan moneter lanjutan oleh The Fed.
Bursa Regional Bergerak Variatif
Sentimen campuran dari pasar global turut mewarnai penutupan bursa Wall Street semalam. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite bergerak cenderung mendatar masing-masing di level 7.704 dan 26.939, sementara Dow Jones Industrial Average mengalami koreksi tipis ke posisi 51.349.
Mengekor dinamika global, pergerakan bursa saham di kawasan Asia-Pasifik pada Jumat pagi ini juga berfluktuasi tajam. Indeks Nikkei 225 di Tokyo memimpin penguatan dengan melonjak 1,23 persen. Sebaliknya, tekanan jual melanda bursa utama lainnya, di mana indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,83 persen dan indeks Shanghai Composite terdepresiasi 1,22 persen.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post