JAKARTA – Erasmus Huis di kawasan Kuningan, Jakarta, kini menjadi pusat perhatian dunia fotografi internasional. Sejak Jumat (25/9/2026), galeri ini resmi membuka pameran World Press Photo 2026, sebuah ajang bergengsi yang menampilkan karya-karya jurnalistik visual paling berpengaruh dari seluruh penjuru dunia.
Menjaga Integritas Visual di Era AI
Pameran tahunan ke-69 ini menghadirkan 42 karya pemenang yang dikurasi secara ketat dari total 57.376 entri yang dikirimkan oleh 3.747 fotografer dari 141 negara. Di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang memicu kekhawatiran akan manipulasi citra, pameran ini hadir sebagai antitesis yang mengedepankan kejujuran lensa.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menekankan bahwa foto jurnalistik memiliki kekuatan unik yang melampaui media teks maupun video. Menurutnya, di era disinformasi yang kian kompleks, menjaga autentisitas visual menjadi tanggung jawab krusial bagi insan pers.
“World Press Photo menampilkan kisah-kisah yang perlu disuarakan. Foto memiliki kekuatan besar untuk menjangkau audiens secara emosional. Ini adalah bentuk jurnalisme yang sangat penting di tengah fase dunia yang sedang melalui banyak krisis, baik itu perubahan iklim maupun konflik bersenjata,” ujar Gerritsen.
Dedikasi di Balik Lensa
Kurator World Press Photo, Mariana Rettore Baptista, menjelaskan bahwa setiap karya yang dipamerkan telah melalui proses verifikasi yang sangat ketat untuk memastikan tidak adanya rekayasa piksel. Baginya, pameran ini bukan sekadar pajangan seni, melainkan bentuk komitmen terhadap kebebasan pers.
“Pameran ini adalah kesempatan untuk melihat rekam visual masa kini, yang diabadikan oleh fotografer yang sering kali mempertaruhkan nyawa mereka demi membawa kisah-kisah ini kepada publik,” ungkap Baptista.
Narasi yang dibawa dalam pameran ini mencakup spektrum isu global yang luas, mulai dari krisis iklim, ketangguhan manusia di tengah bencana, hingga dinamika konflik di berbagai belahan dunia. Keberanian para jurnalis foto ini menjadi sorotan utama, terutama mengingat data dari Reporters Without Borders yang menyebutkan bahwa kebebasan pers saat ini berada di titik terendah dalam dua dekade terakhir.
Penghormatan bagi Jurnalis yang Gugur
Suasana pembukaan pameran sempat diwarnai momen haru saat para pengunjung melakukan doa bersama dan mengheningkan cipta. Momen ini didedikasikan bagi lima jurnalis foto Indonesia yang dinyatakan hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026).
Perwakilan pers Indonesia, Uni Lubis, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, keberanian manusia untuk terjun langsung ke medan bahaya tetap tidak tergantikan. Namun, ia juga memberikan catatan kritis bagi industri media.
“Kecerdasan buatan tidak akan pernah menandingi keberanian untuk menginjakkan kaki di medan bahaya. Namun, di atas semua prinsip itu, keselamatan jurnalis harus menjadi prioritas utama bagi setiap ruang redaksi. Tidak ada karya jurnalistik yang seberharga nyawa,” tegas Uni Lubis.
Pameran World Press Photo 2026 di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, terbuka untuk umum secara gratis mulai 25 September hingga 24 Oktober 2026. Masyarakat dapat mengunjungi pameran ini setiap hari Selasa hingga Sabtu, dengan jadwal tutup pada hari Minggu dan Senin.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post