Panggung Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, diwarnai aksi protes diplomatik berskala luas. Sebanyak 77 delegasi dari berbagai negara memilih untuk melakukan aksi walk out saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersiap menyampaikan pidatonya di hadapan forum internasional tersebut pada Kamis (24/9/2026).
Aksi pengosongan ruang sidang oleh puluhan perwakilan negara—termasuk delegasi dari Indonesia—menjadi bentuk penolakan keras terhadap agresi militer dan kebijakan luar negeri Israel. Meski harus berpidato di hadapan deretan kursi kosong, Netanyahu tetap menyampaikan pembelaan atas tindakan militernya di kawasan Timur Tengah sembari melontarkan kritik tajam kepada para pengkritiknya.
Kecaman Terhadap Diplomat dan Pembelaan Agresi Militer
Mengawali orasinya, Netanyahu secara terbuka mengecam sikap para diplomat yang meninggalkan ruangan. Pemimpin berusia 76 tahun tersebut menyindir aksi protes tersebut sebagai bentuk keputusasaan moral dan menantang delegasi tersisa yang tidak sependapat untuk ikut keluar dari aula sidang.
Di tengah ruang sidang yang melanggang, Netanyahu memaparkan justifikasi atas berbagai operasi militer yang dilancarkan pasukannya. Ia menegaskan bahwa aksi militer yang melibatkan pertempuran di tujuh front—mencakup wilayah Gaza, Lebanon, Yaman, hingga konfrontasi langsung dengan Iran—merupakan langkah bertahan hidup demi menjaga eksistensi negaranya pascaserangan 7 Oktober 2023.
Terkait serangan langsung terhadap target-target strategis Iran, Netanyahu mengklaim keputusan untuk menghancurkan fasilitas nuklir Teheran sebagai langkah krusial yang tidak terhindarkan. Menurutnya, pembiaran terhadap program nuklir Iran justru akan membahayakan keselamatan Israel dan stabilitas global secara keseluruhan.
Bantahan Genosida dan Serangan Balik ke Barat
Menanggapi gelombang tuduhan internasional mengenai dugaan genosida di Jalur Gaza, Netanyahu membantah keras tudingan tersebut. Ia berargumen bahwa otoritasnya telah memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan, seperti pengiriman pasokan vaksin polio dan jutaan ton bantuan pangan ke wilayah konflik, sebagai bukti penolakan atas tuduhan kejahatan kemanusiaan.
Tidak hanya menyasar negara-negara Timur Tengah, Netanyahu turut mengarahkan kritiknya kepada jajaran pemerintah Barat, khususnya di Eropa Barat. Ia menilai para pemimpin Barat telah bersikap lemah dan tunduk pada tekanan opini publik yang ia sebut sebagai gelombang antisemitik.
Polemik Domestik AS dan Prediksi Geopolitik Timur Tengah
Pidato tersebut juga merembet ke ranah politik domestik tuan rumah. Netanyahu menyerang Wali Kota New York, Zohran Mamdani, secara personal. Ia menuduh politisi Muslim tersebut memicu rasa tidak aman bagi komunitas Yahudi di New York serta berusaha membendung narasi keselamatan yang diusung pemerintah Israel.
Di akhir orasinya, Netanyahu menyampaikan prediksinya terkait masa depan rezim di Teheran. Ia meyakini kekuasaan pemerintah Iran saat ini akan runtuh oleh ketidakpuasan rakyatnya sendiri. Menutup pidato di panggung diplomasi PBB, Netanyahu mengutip literatur klasik dan ayat kitab suci untuk menegaskan keyakinannya bahwa bangsa Israel akan terus bertahan menghadapi berbagai tekanan geopolitik global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post