MALANG TODAY – Komitmen mewujudkan moda transportasi ramah lingkungan terus diperkuat oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 9 Jember. Melalui langkah efisiensi energi yang terukur, operator jasa angkutan besi ini sukses memangkas konsumsi listrik operasional hingga 22 persen berkat pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah stasiun strategis kawasan Jawa Timur bagian timur.
Langkah progresif ini menjadi preseden positif bagi pengelolaan transportasi publik berkelanjutan, termasuk jaringan konektivitas kereta api yang menghubungkan wilayah Malang Raya dengan kawasan Tapal Kuda dan Ujung Timur Pulau Jawa. Hingga saat ini, sebanyak empat stasiun besar telah resmi memanfaatkan energi terbarukan tersebut untuk menopang seluruh fasilitas pelayanan penumpang.
Capai Penghematan Hingga 22 Persen di Fasilitas Publik
Empat stasiun yang kini digerakkan oleh energi surya meliputi Stasiun Probolinggo, Stasiun Jember, Stasiun Ketapang, dan Stasiun Banyuwangi Kota. Total kapasitas daya terpasang dari seluruh panel surya di kawasan tersebut telah mencapai 39 kilowatt-peak (kWp).
Manager Hukum dan Humas PT KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa integrasi panel surya ini memberikan dampak langsung terhadap efisiensi penggunaan energi listrik harian di stasiun-stasiun pelayanan utama.
“Pemanfaatan PLTS ini bukan hanya tentang memasang panel surya, tetapi bagaimana energi yang tersedia di sekitar kita dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional stasiun secara lebih efisien,” ungkap Cahyo pada Rabu (30/9/2026).
Berdasarkan catatan evaluasi operasional, penerapan PLTS terbukti efektif menekan konsumsi energi dari jaringan konvensional. Stasiun Jember mencatatkan efisiensi tertinggi dengan penurunan penggunaan listrik mencapai 22 persen. Sementara itu, Stasiun Probolinggo berhasil menghemat 14 persen, Stasiun Banyuwangi Kota sebesar 13 persen, serta Stasiun Ketapang menekan konsumsi hingga 10 persen.
Sistem On-Grid Penopang Area Pelayanan Penumpang
Pemasangan panel surya difokuskan pada area atap stasiun dengan menerapkan teknologi sistem on-grid. Maksudnya, daya bersih yang diproduksi dari pancaran sinar matahari langsung terhubung dan bersinergi dengan jaringan listrik PLN.
Pasokan energi ramah lingkungan ini dimanfaatkan secara optimal untuk menopang berbagai aktivitas operasional vital. Mulai dari pencahayaan di ruang tunggu penumpang, sistem komputerisasi loket tiket, fasilitas umum di area publik, hingga pendingin udara di ruang kerja para petugas stasiun.
Infrastruktur energi hijau ini dibangun secara bertahap. Instalasi di Stasiun Probolinggo (6 kWp), Stasiun Jember (15 kWp), dan Stasiun Ketapang (7 kWp) telah beroperasi sejak Desember 2023. Penambahan kapasitas berlanjut di Stasiun Banyuwangi Kota (11 kWp) yang mulai terpasang sejak Maret 2025.
Menuju Konsep Green Station dan Digitalisasi Energi
Selain mengandalkan pemanenan energi matahari, langkah efisiensi juga disempurnakan melalui peremajaan perangkat elektronik secara menyeluruh. Penggunaan lampu hemat energi berteknologi LED kini diterapkan di seluruh sudut stasiun, lengkap dengan pengontrol waktu otomatis (timer system) untuk menyesuaikan tingkat pencahayaan berdasarkan jam operasional.
Ke depan, strategi efisiensi akan terus dikembangkan ke tingkat yang lebih canggih. Pihak manajemen merencanakan pengadopsian Penerangan Jalan Umum (PJU) berbasis solar panel, serta integrasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan Integrated Building Management System (IBMS) guna memantau serta mengendalikan penggunaan listrik secara real-time.
“Efisiensi energi kami lakukan dari berbagai sisi. Selain memanfaatkan energi surya, penggunaan lampu LED dan pengaturan sistem penerangan secara otomatis juga menjadi bagian dari upaya mengurangi konsumsi listrik tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tegas Cahyo.
Upaya transformasi menuju Green Station ini diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi pengoptimalan fasilitas publik lain di Jawa Timur, termasuk di kawasan simpul transportasi Malang Raya. Pengembangan sistem PLTS selanjutnya bakal diarahkan pada aset-aset bangunan KAI yang memiliki intensitas aktivitas dan konsumsi listrik tinggi pada siang hari.
“Transportasi berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang perjalanan keretanya, tetapi juga bagaimana fasilitas yang mendukung perjalanan tersebut dikelola dengan memperhatikan efisiensi dan lingkungan,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post