Denpasar — Pulau Bali kini berada dalam cengkeraman kekeringan ekstrem setelah mencatatkan rekor periode tanpa hujan terpanjang hingga mencapai 123 hari berturut-turut. Fenomena iklim global El Nino yang diproyeksikan bakal bertahan hingga awal tahun 2027 menjadi pemicu utama di balik berlanjutnya cuaca kering yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Dewata tersebut.
Berdasarkan data pemantauan Stasiun Klimatologi Bali hingga akhir September, rekor kekeringan terparah terdeteksi di stasiun pemantauan curah hujan Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Kondisi ini mempertegas ancaman krisis air dan dampak lingkungan yang kian nyata bagi sektor pertanian maupun pariwisata setempat.
Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali, Trayi Budi Samantu, mengungkapkan bahwa kendati beberapa wilayah sempat diguyur hujan berintensitas ringan pada dekade pertama September, presipitasi tersebut belum memadai untuk menandai masuknya musim penghujan. Memasuki dekade berikutnya, kondisi atmosfer justru kembali mengering secara signifikan.
Peta pemantauan iklim menunjukkan pergeseran indikator visual yang mengkhawatirkan. Wilayah-wilayah yang sebelumnya berstatus aman (ditandai dengan warna hijau) bertransformasi menjadi jingga, kuning, hingga merah. Bahkan, beberapa kawasan kini masuk dalam kategori sangat kering yang ditandai dengan warna merah muda, mengindikasikan durasi hari tanpa hujan yang tergolong ekstrem.
Sebaran Kekeringan Ekstrem di Wilayah Bali
Akumulasi data iklim sepanjang September mencatat escalasi kekeringan yang meluas di berbagai daerah. Sebanyak 17 wilayah di Bali dilaporkan mengalami periode tanpa hujan selama satu hingga dua bulan. Sementara itu, 18 wilayah lainnya terperangkap dalam kondisi kekeringan ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari tanpa presipitasi, dengan titik terparah berada di Kecamatan Gerokgak.
Ekskalasi cuaca ekstrem ini selaras dengan analisis dinamika atmosfer global terkait fenomena El Nino. Fenomena ini ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur, yang secara sistematis mengganggu pola cuaca global dan menekan pembentukan awan hujan di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.
Dampak El Nino tidak hanya dirasakan di Indonesia, melainkan juga memicu anomali iklim di negara-negara tetangga seperti India, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Australia. Di kawasan Indonesia sendiri, pengaruh fenomena ini memicu penurunan intensitas hujan secara signifikan sejak Juli dan diproyeksikan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Proyeksi BMKG dan Imbauan Kewaspadaan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan transisi menuju musim penghujan di Bali baru akan dimulai secara bertahap mendekati akhir November. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan baru berlangsung pada Februari mendatang.
Menghadapi pergeseran pola iklim dan potensi dampak kekeringan yang berkepanjangan, otoritas terkait mengimbau masyarakat, pelaku sektor pertanian, serta pengelola industri pariwisata di Bali untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala. Langkah mitigasi efisiensi penggunaan air bersih dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan menjadi hal krusial yang perlu diantisipasi secara bersama.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post