Lembaga pengelola investasi negara, Danantara, akhirnya membuka suara terkait lambatnya rilis laporan keuangan konsolidasi milik mereka. Proses verifikasi silang (cross-check) data keuangan dari 1.074 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beserta anak dan cucu perusahaannya menjadi tantangan utama yang memicu penundaan publikasi dokumen krusial tersebut.
Keterlambatan ini sempat memicu sorotan publik dan pelaku pasar terkait tingkat transparansi tata kelola lembaga yang menaungi seluruh aset BUMN tersebut. Publik menantikan laporan keuangan yang telah diaudit guna menilai kinerja objektif korporasi negara di bawah kendali Danantara.
Tantangan Konsolidasi Data Ribuan Entitas
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa perumusan laporan konsolidasi menyeluruh ini merupakan pengalaman pertama dalam sejarah pengelolaan BUMN di Indonesia. Selama ini, setiap entitas negara menyusun laporan keuangan secara mandiri tanpa terintegrasi satu sama lain.
“BUMN tidak memiliki laporan konsolidasi di masa lalu. Perusahaan seperti PLN, Pertamina, maupun Bank Mandiri menyusun laporan mereka masing-masing. Sekarang, kami harus memastikan tidak ada pencatatan ganda atas transaksi antar-1.074 perusahaan ini,” ujar Dony saat berbicara dalam gelaran Investor Daily Summit.
Dony mengungkapkan bahwa proses penggabungan data antar-perusahaan BUMN tersebut baru dimulai pada Juni lalu. Meski memakan waktu cukup panjang, ia menegaskan keterbukaan Danantara dalam menyelesaikan proses akuntansi ini secara rinci.
Audit Raksasa Konsultan dan BPK
Saat ini, draft laporan keuangan konsolidasi tersebut telah melewati proses audit dari firma konsultan global, EY (Ernst & Young). Dokumen tersebut kini berada di tahap peninjauan akhir oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang baru memulai audit resmi atas laporan konsolidasi Danantara beberapa pekan lalu.
Meskipun Dony belum memberikan jadwal pasti terkait tanggal peluncuran resminya, ia sempat mengindikasikan kepada awak media bahwa laporan keuangan tersebut ditargetkan siap dipublikasikan dalam bulan ini. Ia juga optimistis proses penyusunan laporan keuangan pada 2027 mendatang tidak akan memakan waktu lama karena Danantara telah memiliki standar pemodelan akuntansi yang mapan.
Target Profit dan Restrukturisasi Masif
Di balik kendala administratif tersebut, kinerja finansial BUMN di bawah naungan Danantara Asset Management (DAM) mencatatkan angka positif. Pada tahun lalu, portofolio BUMN yang dikelola berhasil meraup total laba bersih sebesar Rp326 triliun (sekitar 18,2 miliar dolar AS).
Danantara saat ini tengah menjalankan agenda restrukturisasi besar-besaran untuk efisiensi operasional, yakni merampingkan jumlah BUMN dari ribuan entitas menjadi sekitar 250 perusahaan inti. Melalui pemangkasan dan penyederhanaan struktur ini, Dony memproyeksikan gabungan laba BUMN dapat melonjak hingga Rp360 triliun (sekitar 20 miliar dolar AS) pada tahun ini.
Isu keterlambatan laporan keuangan ini sebelumnya sempat dikritik oleh ekonom senior Bhima Yudhistira. Ia mengingatkan pentingnya transparansi Danantara, mengingat transparansi laporan keuangan yang akuntabel merupakan kunci utama untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan memperkuat iklim investasi nasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post