Ancaman Feodalisme Politik di Tengah Prinsip Dasar Republik
Sistem republik lahir sebagai gagasan ideal untuk memastikan bahwa kekuasaan negara berada di tangan rakyat, bukan dikuasai secara mutlak oleh individu atau keluarga tertentu. Konsep Trias Politika yang digagas oleh John Locke dan disempurnakan oleh Montesquieu menempatkan pembagian kekuasaan ke dalam lembaga eksekutif, legislatif, dan judisial untuk saling mengawasi. Namun, efektivitas mekanisme pengawasan ini dinilai kerap mengalami kemandulan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam prinsip dasar republik, negara merupakan milik bersama di mana setiap warga negara memiliki hak yang setara untuk memimpin melalui mekanisme kompetisi yang terbuka. Pengelolaan negara tidak boleh diwariskan secara temurun, melainkan diperebutkan secara berkala melalui pemilihan umum (pemilu) yang demokratis. Sayangnya, dominasi pemodal dan tingginya biaya politik dalam sistem pemilu modern justru mendorong pergeseran kekuasaan menuju praktik politik dinasti.
Dari Panggung Kepala Daerah hingga Puncak Kekuasaan Negara
Praktik pergeseran kekuasaan berorientasi dinasti ini diawali dari tingkat daerah, ketika para kepala daerah mulai mencalonkan anggota keluarga dekat seperti istri, anak, hingga menantu. Dinamika ini mencapai sorotan publik paling masif ketika Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden ke-7 RI Jokowi, berhasil menduduki jabatan Wali Kota Surakarta hingga akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.
Meski demikian, fenomena politik dinasti sejatinya telah berakar jauh sebelum penetapan jabatan tersebut dan tidak hanya terbatas pada perebutan kursi di pemerintahan. Fenomena ini juga mengakar kuat di dalam internal partai politik. Tuduhan politik dinasti yang selama ini kerap dialamatkan secara eksklusif kepada keluarga tertentu dinilai kurang presisi, mengingat pola serupa dipraktikkan secara meluas oleh berbagai kekuatan politik utama nasional.
Dominasi Trah Keluarga dan Pengelolaan Partai Berbasis Korporasi
Praktik kekeluargaan di tubuh partai politik terlihat jelas di berbagai entitas partai besar. Di PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri memberikan panggung kepemimpinan strategis kepada putrinya, Puan Maharani. Pada tubuh Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menempatkan putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai ketua umum. Sementara di Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan yang telah menjabat ketua umum selama tiga periode dikabarkan tengah mempersiapkan putrinya untuk meneruskan kepemimpinan partai.
Pola kaderisasi berbasis kedekatan internal juga membayang-bayangi Partai Gerindra. Sang Ketua Umum, Prabowo Subianto, dikabarkan mulai menyiapkan kelompok kader muda berbakat atau “Hambalang Boys”, dengan nama Teddy Indra Wijaya yang berada di barisan terdepan. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana partai politik kini dikelola layaknya korporasi, di mana pemegang saham mayoritas—dalam hal ini ketua umum—memegang kendali mutlak atas seluruh keputusan politik.
Risiko Oligarki dan Wajah Republik berjiwa Feodal
Akibat dari pengelolaan partai yang terpusat pada figur tertentu, keanggotaan partai politik bergeser dari wadah perjuangan menjadi tempat kerja profesional yang mengandalkan distribusi jabatan politik dan akses proyek kekuasaan. Fenomena ini lambat laun memfasilitasi anak-anak serta kerabat ketua umum partai untuk menduduki jabatan strategis negara seperti Ketua DPR, menteri, hingga ketua fraksi, meski sebagian di antaranya dinilai minim pengalaman dan kompetensi.
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, Tony Rosyid, menyoroti bahaya laten dari fenomena ini terhadap masa depan kedaulatan rakyat. Menurutnya, penetrasi dinasti politik dari partai ke struktur negara mengancam tata kelola pemerintahan yang transparan.
“Saat ini politik dinasti telah menjadi realitas objektif yang berpotensi mengkooptasi negara beserta seluruh sumber dayanya. Istilah Iron Law of Oligarchy dari Robert Michels kini nyata berada di tangan segelintir keluarga,” ujar Tony Rosyid.
Ia menuturkan bahwa apabila siklus kepemimpinan partai terus menggunakan sistem dinasti, maka dalam rentang 10 hingga 20 tahun ke depan, posisi-posisi kunci pemerintahan berpotensi besar diisi oleh para keturunan ketua umum partai. Jika tren ini terus dibiarkan tanpa koreksi mendasar, Indonesia berisiko terjebak dalam sistem feodalisme kekuasaan yang dibungkus oleh formalitas hukum berbentuk republik.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post