MALANG TODAY – Pernyataan keras kembali dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidato terbarunya, ia menggunakan istilah “goblok” untuk menyebut para pakar yang kerap mengkritik program pemerintahannya. Pernyataan ini langsung menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan, terutama akademisi dan pengamat politik, yang menilai ucapan tersebut tidak pantas dan berpotensi menciptakan iklim masyarakat yang antisains.
Umpatan ini menambah daftar panjang sindiran keras yang pernah diucapkan Prabowo di depan publik. Selama memimpin, ia tercatat beberapa kali melontarkan istilah kontroversial seperti “ndasmu”, “antek asing”, hingga “londo ireng” untuk merespons kritik dari para oposisi maupun pengamat.
Kronologi Ucapan “Goblok” dalam Pidato HUT PAN
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan. Di hadapan para elite politik dan kader partai, Prabowo awalnya memaparkan visi besarnya untuk mengentaskan kemiskinan dan stunting di Indonesia agar anak-anak bangsa mampu bersaing di kancah global.
“Saya ingin melihat Indonesia sejahtera. Itu sumpah saya,” ujar Prabowo dengan nada menggebu-gebu, yang langsung disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Namun, suasana berubah riuh ketika Prabowo melanjutkan kalimatnya dengan menyindir para kritikus. “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, sacing pintarnya jadi goblok,” ucapnya. Prabowo menuding bahwa ada sebagian pihak yang mengaku sebagai pakar namun justru menyebarkan fitnah, alih-alih memberikan analisis yang jujur.
Rekam Jejak Sindiran Keras Presiden
Sikap reaktif Prabowo terhadap kritik bukan kali ini saja terjadi. Gaya bicaranya yang blak-blakan kerap memicu kontroversi lewat berbagai istilah yang dinilai kurang elok bagi seorang kepala negara:
1. Istilah “Ndasmu”
Diucapkan saat menghadiri acara internal Partai Gerindra di Bogor. Istilah ini diduga kuat diarahkan kepada pihak-pihak yang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta susunan kabinetnya yang dinilai terlalu gemuk.
2. Narasi “Antek Asing”
Narasi ini berulang kali muncul dalam berbagai pidato kepresidenan. Salah satunya saat ia berbicara di depan para santri Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, di mana ia meminta masyarakat waspada terhadap provokasi media sosial yang digerakkan oleh pihak yang ia sebut “antek asing”.
3. Sebutan “Londo Ireng”
Istilah ini keluar saat puncak Harlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Prabowo menyindir media, pengamat, dan LSM yang dianggapnya hanya fokus mencari-cari kesalahan pemerintah dan mengabdi pada kepentingan asing.
Kritik Akademisi: Bahaya Otoritarianisme dan Sikap Antisains
Menanggapi fenomena ini, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal, menilai ucapan-ucapan tersebut mengindikasikan adanya gejala otoritarianisme. Menurutnya, dalam sistem demokrasi, kritik sangat dibutuhkan sebagai instrumen transparansi dan akuntabilitas kebijakan publik.
“Ini satu langkah menuju otoritarian karena dalam rezim tersebut tidak boleh ada suara yang berbeda. Ketika kebijakan dikritik, presiden justru menganggapnya sebagai serangan personal,” jelas Nicky.
Senada dengan Nicky, Guru Besar Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, menyayangkan penggunaan kata “goblok” oleh seorang presiden kepada para akademisi. Ia menilai ucapan tersebut merendahkan martabat kaum intelektual dan secara tidak langsung mendidik masyarakat untuk tidak percaya pada sains dan data rasional.
“Kritik dari para pakar itu muncul karena absennya fungsi kontrol (check and balances) dari lembaga legislatif seperti DPR. Ketika kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis atau program lainnya dikritisi demi perbaikan, pengkritik malah dicap goblok. Ini preseden buruk bagi demokrasi kita,” tegas Sulistyowati.
Mengapa Presiden Cenderung Resisten?
Pakar politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, menganalisis ada tiga faktor utama di balik sikap resisten Prabowo terhadap kritik. Pertama, Prabowo dikelilingi oleh lingkaran koalisi yang cenderung selalu sepakat, sehingga ia tidak terbiasa dengan debat argumen yang sengit.
Kedua, lingkungan kekuasaan saat ini sangat protektif, yang membuat ruang masukan alternatif menjadi sempit. Ketiga, beberapa kebijakan strategis dinilai tidak berbasis pada riset mendalam (evidence-based policy), melainkan keputusan politik taktis.
Di sisi lain, pengamat politik Bawono Kumoro memberikan perspektif berbeda. Meski gaya komunikasi Prabowo sangat keras dan blak-blakan, secara praktis pemerintahannya sejauh ini tidak melakukan tindakan represif hukum atau pembungkaman karier terhadap para akademisi yang kritis.
“Gaya komunikasi tiap presiden memang berbeda. Namun, jika umpatan dan sindiran kasar ini terus diulang, saya khawatir akan memicu sentimen negatif publik yang jauh lebih besar ke depannya,” pungkas Bawono.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post