Indonesia Dorong Akselerasi Aksi Iklim Berbasis Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjembatani kesenjangan antara janji iklim global dengan realisasi aksi nyata di lapangan. Dalam forum Leader’s Plenary pada rangkaian Pre-COP31 yang berlangsung di Fiji dan Tuvalu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menekankan bahwa agenda perubahan iklim harus berjalan selaras dengan agenda pembangunan nasional.
Jumhur menyatakan bahwa Indonesia tetap berpegang teguh pada target Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai peta jalan menuju net-zero emissions pada tahun 2060 atau lebih cepat. Menurutnya, transisi menuju ekonomi hijau tidak boleh mengorbankan stabilitas ekonomi, ketahanan energi, maupun upaya pengentasan kemiskinan.
Prinsip Keadilan dan Akses Pendanaan
Dalam forum tingkat tinggi tersebut, Indonesia secara tegas menyuarakan pentingnya prinsip kesetaraan bagi negara berkembang. Akses terhadap pendanaan global, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas menjadi prasyarat mutlak agar negara-negara berkembang dapat melakukan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara efektif.
“Transisi energi kita harus berlangsung secara adil, teratur, dan berpusat pada masyarakat, sembari memperkuat ketahanan energi, keterjangkauan, serta melindungi kelompok masyarakat yang rentan,” ujar Jumhur dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan bahwa tantangan utama dunia saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan ambisi di atas kertas, melainkan memastikan implementasi yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.
Strategi Industri Rendah Karbon
Sebagai langkah konkret, Indonesia saat ini tengah mengakselerasi transformasi di berbagai sektor ekonomi. Beberapa strategi utama yang sedang dijalankan meliputi:
- Optimalisasi FOLU Net Sink 2030 untuk sektor kehutanan dan penggunaan lahan.
- Pengurangan emisi secara masif dari sektor limbah dan gas metana.
- Transformasi industri melalui dekarbonisasi pada industri yang sudah berjalan serta pengembangan industri rendah karbon sejak tahap perancangan (design phase).
Dukungan bagi Negara Kepulauan
Rangkaian pertemuan Pre-COP31 yang berlangsung pada 5–9 Oktober 2026 ini merupakan persiapan krusial menuju United Nations Climate Change Conference (COP31) di Antalya, Turki, pada November 2026 mendatang. Salah satu capaian penting dalam forum ini adalah diadopsinya Deklarasi Taku Pakasoa.
Deklarasi tersebut menjadi wujud solidaritas global, khususnya dalam mendukung Negara-Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS) dan Negara-Negara Sedang Berkembang (LDC). Fokus utama deklarasi ini adalah memperkuat ketahanan terhadap risiko kerugian dan kerusakan (loss and damage) akibat perubahan iklim yang bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post