Aksi boikot massal kembali mewarnai Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. Delegasi Indonesia bersama puluhan diplomat dari berbagai negara secara serentak melakukan aksi walkout saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjalan menuju podium utama untuk menyampaikan pidatonya.
Aksi histeris dan aksi hengkang massal ini terjadi di tengah gelombang protes pro-Palestina yang berkecamuk di luar markas besar PBB. Di dalam ruang sidang, aksi bisu namun penuh ketegangan politik tersebut menjadi bentuk penolakan tegas terhadap agresi militer Israel di kawasan Timur Tengah. Netanyahu terpaksa menyampaikan pidatonya di hadapan ruang sidang yang nyaris kosong melompong.
Respons Sarkastik Netanyahu di Ruang Sidang yang Sepi
Merespons gelombang diplomat yang berhamburan keluar dari ruangan, Netanyahu melontarkan sindiran tajam sebelum memulai pidato resminya. “Sebelum saya mulai, sekadar pengumuman singkat. Jika masih ada ‘pengecut moral’ lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan keluar sekarang,” ujar Netanyahu dengan nada sarkastik.
Tanpa mempedulikan deretan kursi kosong, pemimpin Israel tersebut tetap melanjutkan narasi pembelaannya atas operasi militer di Gaza dan konfrontasi dengan Iran. Dalam pidatonya, ia juga secara terbuka memamerkan kedekatan aliansinya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Dalam pertempuran melawan ‘kaum barbar’ ini, kami tidak memiliki mitra yang lebih besar daripada Presiden Trump. Anda bertanya mengapa kami menang? Karena kami tidak memiliki pilihan lain,” tegas Netanyahu di atas podium berornamentasi marmer hijau tersebut.
Diplomasi Konsisten Indonesia untuk Palestina
Sikap tegas yang ditunjukkan oleh delegasi Indonesia di Markas PBB New York ini mempertegas posisi historis Jakarta yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Langkah walkout ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh diplomat Indonesia saat Israel diberi panggung di forum PBB.
Meskipun Presiden Prabowo Subianto tidak hadir secara langsung dalam sesi debat Majelis Umum PBB tahun ini, diplomasi Indonesia tetap bergerak agresif. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menggalang dukungan internasional lintas negara untuk mendorong pengakuan kedaulatan Palestina.
“Kita harus terus mengetuk pintu setiap negara yang belum mengakui Palestina. Karena setiap pengakuan baru akan meruntuhkan satu demi satu batu dari tembok pendudukan,” tegas Menlu Sugiono dalam sesi pembahasan solusi dua negara (two-state solution).
Ujian Komitmen Luar Negeri Jakarta
Menlu Sugiono dijadwalkan akan mengudara di podium PBB pada akhir pekan ini untuk menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia. Pidato mendatang diprediksi oleh para pengamat politik internasional akan menjadi tolok ukur krusial bagi arah kebijakan luar negeri pemerintahan baru Indonesia dalam membela isu Palestina.
Dunia kini menyoroti bagaimana Jakarta memainkan peran strategis geopolitiknya, terutama setelah keterlibatan Indonesia dalam diskusi badan perdamaian (Board of Peace) yang didukung AS serta usulan pengerjaan pasukan perdamaian di Jalur Gaza.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post