Panggung pameran mode bergengsi Paris Fashion Week kembali menjadi arena kompetisi estetika yang sengit bagi rumah-rumah mode dunia. Di tengah sorotan lampu runway dan riuk pesona mode global, panggung Spring/Summer 2027 menandai momentum penting bagi sejumlah label ternama untuk mengukuhkan identitas, merebut kembali esensi keagungan busana, serta menegaskan eksistensi mereka di daftar kalender resmi mode dunia.
Dari nostalgia masa kecil yang manis, interpretasi santai gaya klasik, permainan penumpukan busana yang subtil, hingga perayaan warisan busana musim dingin bergaya perkotaan; simak bagaimana Ganni, Ami, Time, dan Moncler menyihir para pecinta mode musim ini.
Ganni: Kepulangan Anggun ke Akar Nostalgia Kopenhagen
Suasana nostalgia masa kecil yang kental menyelimuti presentasi koleksi terbaru Ganni. Properti berukuran raksasa seperti sofa dan tempat tidur berukuran kuriositas, magnet kulkas penuh warna, hingga sajian minuman manis membawa para undangan melintasi lorong waktu. Direktur Kreatif Ditte Reffstrup merancang koleksi Spring/Summer 2027 ini dengan menyelami kenangan masa kecilnya—saat ia kerap mencuri kesempatan memakai baju milik anggota keluarga, hingga masa remaja ketika ia meretas lemari pakaian rumah demi menciptakan gaya personal yang eksentrik.
Setelah beberapa musim sempat mengeksplorasi siluet teatrikal dan inspirasi sejarah yang rumit, sang desainer kini memilih kembali ke esensi dasar yang menjadi ciri khas siluet Ganni sejak dirilis ulang pada tahun 2009. Motif animalia—seperti motif leopar ikonis yang tampil mengejutkan dalam kolaborasi busana olahraga bersama Lululemon—hadir berdampingan dengan rajutan pastel, aksesori bernuansa neon, serta denim berhias sulaman floral.
Gaun berpotongan baby-doll, sweater wol berukuran oversized yang hangat, setelan penjahitan dekontruksi (deconstructed tailoring), hingga T-shirt bergaya 1990-an padat tulisan dipadupadankan dengan teknik layering yang apik. Di saat bersamaan, label asal Denmark ini terus menajamkan lini lini aksesori kulitnya—yang kini menyumbang hingga 60% pendapatan di pasar mode Eropa—lewat tas ikonis Very Bou yang hadir dalam aneka motif anyar serta variasi ukuran dari XS hingga XXL.
Langkah kembali ke esensi dasar ini diperkuat oleh kepemimpinan Direktur Utama anyar, Hans Hoegstedt. Ia menegaskan komitmennya untuk mempererat kembali hubungan dengan akar budaya Kopenhagen serta merawat komunitas setia mereka yang populer dengan sebutan Ganni Girls.
Ami: Sentuhan Santai Gaya Kalifornia di Jantung Paris
Rumah mode asal Paris, Ami, menancapkan pesonanya secara kuat di kawasan bersejarah Place des Victoires. Di sekitar patung berkuda Louis XIV—tempat di mana sang desainer Alexandre Mattiussi mendirikan markas besar, studio kriya, hingga gerai konsep terbarunya—koleksi Spring/Summer 2027 dihadirkan dengan penuh kehangatan.
Koleksi busana gabungan pria dan wanita (co-ed collection) kali ini menerjemahkan ulang kode busana Kalifornia era 1970-an. Berbeda dari pendekatan serba anggun pada musim sebelumnya, Mattiussi menyuntikkan karakter yang lebih santai dan kasual. Kaos polo bergaris warna-warni berlengan panjang, setelan jas berukuran longgar, rok mini, mantel panjang, serta setelan kerja berbahan nubuck menjadi sorotan utama.
Tak hanya busana, Ami juga memperkenalkan logo terbarunya, meluncurkan lini sneaker teranyar, serta berfokus pada pengembangan aksesori kulit bertekstur lembut seperti seri boyfriend bag yang modern dan fungsional untuk gaya hidup urban.
Time: Manifestasi Penumpukan Siluet yang Minimalis
Sementara itu, label mode Time memboyong para penikmat mode ke dalam panggung megah Théâtre du Châtelet. Di bawah naungan atap pencahayaan artistik yang dinamis di atas podium putih bersih, desainer Jung In Choi menyajikan koleksi busana yang sangat tenang, bersih, namun sarat akan artikulasi gaya.
Bertajuk The First Layer, koleksi ini berfokus pada eksplorasi seni menumpuk pakaian (layering). Siluetnya bergerak secara dinamis antara penjahitan tajam yang presisi dan potongan yang serba longgar. Setelan jas double-breasted hadir dengan karakter jatuh yang mengalir, dipadukan bersama kemeja berkerah lembut dan tas bahu berukuran besar.
Gaun berpotongan feminin dengan tali halus bermotif mengalir mengikuti gerak tubuh, sementara rok berpotongan lurus tampak serasi dipadukan bersama jaket cropped dan mantel pea coat yang tereksekusi dengan struktur kuat.
Keanggunan yang minimalis ini tercermin pula dalam pilihan palet warna solid khas label Korea Selatan ini—mulai dari hitam pekat, krem, putih gading, abu-abu arang, biru gelap, hingga hijau pudar. Sebagai penyegar, hadir pula beberapa potongan bermotif hasil kolaborasi seni artistik bersama pelukis figuratif asal Korea, Moka Lee.
Moncler: Menghidupkan Kembali Legenda Jaket Musim Dingin
Label asal Italia yang terkenal dengan spesialisasi jaket down mewahnya, Moncler, mengukuhkan presensinya di Paris dengan cara yang spektakuler. Di bawah arahan Remo Ruffini, Moncler memanfaatkan momentum ini untuk meresmikan ruang eksibisi dan acara seluas 400 meter persegi di lantai atas gerai utama mereka di kawasan megah Champs-Élysées.
Di ruang eksklusif tersebut, Moncler memperkenalkan koleksi Moncler Re/Icons—sebuah proyek reorientasi yang menginterpretasikan ulang empat model jaket paling bersejarah dari arsip lintas dekade mereka. Potongan ikonis dari jaket Karakorum, Verone, Himalaya, dan

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post