Lonjakan harga minyak mentah global yang kini bertahan kokoh di atas level US$ 100 per barel kian menekan stabilitas perekonomian berbagai negara pengimpor energi. Utusan Khusus Presiden RI untuk Urusan Iklim sekaligus pengusaha nasional, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa kunci utama penurunan tensi harga minyak mentah dunia saat ini berada di tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam pemaparannya di Jakarta, adik kandung Presiden Prabowo Subianto tersebut menggarisbawahi bahwa fluktuasi komoditas minyak sepenuhnya dikendalikan oleh dinamika geopolitik global, bukan oleh otoritas domestik maupun organisasi kartel minyak dunia.
“Bukan pemerintah Indonesia ataupun OPEC yang menentukan harga minyak dunia. Sosok yang dapat melakukannya adalah Presiden Donald Trump. Apabila tensi perang dengan Iran dihentikan, harga minyak otomatis akan merosot,” ujar Hashim saat berupaya meredam pesimisme publik mengenai prospek ekonomi domestik.
Krisis Selat Hormuz dan Tekanan Harga Komoditas
Eskalasi di kawasan Timur Tengah memuncak pascaserangan mendadak yang dilancarkan pihak Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada akhir Februari lalu. Merespons manuver militer tersebut, Iran memanfaatkan keunggulan geografisnya untuk memblokade Selat Hormuz, salah satu urat nadi pasokan energi terpenting yang mencakup sekitar 20 persen lalu lintas minyak bumi dunia.
Buntunya negosiasi bilateral antara Washington dan Teheran, ditambah klaim sepihak Trump terkait wilayah perairan tersebut, memicu reli penguatan minyak acuan global Brent hingga menembus angka psikologis di atas US$ 100 per barel. Krisis maritim tersebut bahkan sempat menjebak dua kapal tanker pengangkut minyak milik Indonesia selama berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil dievakuasi kembali ke Tanah Air.
Meski menghadapi tekanan impor energi, Hashim yang juga memimpin konglomerasi bisnis Arsari Group menilai fundamental perekonomian Indonesia tetap berada dalam koridor yang kokoh. Menurutnya, narasi pesimistis di ruang publik kerap berlebihan mengingat potensi perbaikan ekonomi nasional terbuka lebar begitu jalur Selat Hormuz kembali dibuka secara normal.
Strategi Transisi Energi dan Kemandirian Biodiesel B50
Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri mendorong pemerintah merancang langkah mitigasi cepat, termasuk mendiversifikasi rantai pasok dengan melirik pasokan minyak mentah alternatif asal Rusia. Langkah ini krusial mengingat jurang antara produksi dan kebutuhan riil energi domestik yang masih terlampau lebar.
Menteri Koordinator Bidang Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa konsumsi harian minyak Indonesia saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, dengan porsi impor mencapai 1 juta barel per hari. Guna mempersempit defisit neraca perdagangan energi, pemerintah mempercepat implementasi bauran energi baru terbarukan berbasis komoditas kelapa sawit.
Pemerintah secara resmi menggenjot mandatori bahan bakar solar berbasis campuran 50 persen minyak sawit atau program B50. Terobosan ini diproyeksikan memangkas impor bahan bakar secara signifikan dalam waktu dekat.
“Melalui penerapan program B50, kami optimistis dapat menghentikan total impor bahan bakar solar dengan spesifikasi Cetane 48 (C48) mulai tahun ini,” tutur Bahlil menegaskan arah kebijakan swasembada energi nasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post