Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertahan di zona merah pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (7/10/2026). Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut terkoreksi sebesar 34,15 poin atau 0,55 persen hingga terlempar ke level 6.158. Melemahnya IHSG sejalan dengan tren depresiasi kawasan Asia yang tertekan lonjakan harga komoditas energi global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Gejolak Minyak Mentah Global dan Ketegangan Geopolitik
Berdasarkan analisis pasar dari Pilarmas Investindo Sekuritas, sentimen negatif utama yang membayangi pergerakan saham domestik bersumber dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga komoditas ini kembali menyulut kekhawatiran para pelaku pasar terhadap membesarnya laju inflasi global serta respons ketat suku bunga acuan bank sentral.
Harga minyak mentah jenis Brent mencatatkan kenaikan signifikan hingga menembus level US$ 101 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ancaman badai tropis yang berpotensi mengganggu pasokan dan aktivitas penyulingan di kawasan Teluk Meksiko, Amerika Serikat. Kondisi pasar kian memanas seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat serangan kelompok Houthi terhadap target strategis di Arab Saudi, yang mempergenting kekhawatiran atas stabilitas rantai pasok energi dunia.
Menanti Sinyal Risalah The Fed
Di samping dinamika komoditas energi, pelaku pasar global maupun domestik saat ini dalam posisi wait and see mencermati rilis risalah pertemuan terbaru dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Sinyal dan pandangan para pejabat tinggi The Fed sangat dinantikan guna membaca arah kebijakan suku bunga acuan dalam beberapa waktu ke depan.
Resiliensi Cadangan Devisak Indonesia
Di tengah tekanan eksternal yang cukup berat, kondisi ekonomi dalam negeri sebenarnya masih menunjukkan pondasi yang teruji. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 berada di level US$ 146,3 miliar, relatif stabil dibandingkan catatan akhir Agustus sebesar US$ 146,5 miliar.
Ketahanan finansial tersebut dinilai memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal. Cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh melampaui standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post